Jika Mencari Pendamping Hidup, Wanita-wanita Seperti Inilah yang Hendaknya Dicari

 

Sebagaimana Islam mengajarkan kepada kaum wanita tentang sifat-sifat yang layak dipertimbangkan dalam menerima calon suami, Islam juga mengajari kaum lelaki tentang sifat-sifat yang layak dipertimbangkan dalam memilih seorang calon istri.

Sebagian orang kadang lebih mementingkan kecantikan daripada pertimbangan-pertimbangan lain. Ada pula yang lebih mendahulukan kekayaan dan hartanya daripada kecantikannya. Dan sebagian lagi ada yang lebih mengutamakan wanita berpangkat dan bernasab, tanpa memperdulikan ahlak dan kecantikan.

 

Proses seleksi calon pasangan hidup sedikitnya dapat dilakukan dengan penekanan kriteria kecantikan, kekayaan atau status sosial. Dari seluruh kriteria tersebut, perilaku dan kepribadian keagaman merupakan kriteria yang juga patut dipertimbangkan. Bahkan, kriteria terakhir inilah yang mendapatkan anjuran lebih dalam Islam. Mengenai hal ini nabi bersabda:

 

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: (1) hartanya, (2) nasabnya, (3) kecantikannya, dan (4) karena agamanya, maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Imam Bukhari Muslim)

Dalam mencari calon pasangan hidup seseorang dituntut untuk selektif sebelum menetapkan pilihan. Tidak sekadar berkonsentrasi pada penampilan fisik saja, baik dalam arti struktur biologis maupun dalam arti akumulasi materi yang dimiliki.

 

Penilaian tersebut hanya merupakan kriteria semu yang tidak menjamin kebahagiaan dalam mengarungi rumah tangga.

Imam An-Nawawi mengutip perkataan Al-Ghazali dalam salah satu karynya, bahwa seseorang tidak dilarang memilih calon pasangannya dikarenakan cantik, tampan dan bahkan hartawan.

Tapi pertanyaan yang sangat eksistensial selanjutnya adalah “apakah agama dan kepribadiaan yang ia punya juga cantik sebagaimana fisiknya?”

Dengan demikian, maka kriteria fisik pada dasarnya tidak menjadi soal. Sebab kecantikan dan kedudukan merupakan kriteria pendukung dalam menjalani bahtera kehidupan. Bahkan dalam hadis dinyatakan:

 

مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللَّهُ إلَّا ذُلًّا ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللَّهُ إلَّا فَقْرًا ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللَّهُ إلَّا دَنَاءَةً وَمَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لَمْ يُرِدْ بِهَا إلَّا أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ وَيُحْصِنَ فَرْجَهُ أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَارَكَ اللَّهُ لَهُ فِيهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيهِ

Artinya: “Barangsiapa menikahi wanita karena kemuliaannya maka Allah takkan menambahkan padanya melainkan Kehinaan, dan barang siapa menikahi wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan menambahkan padanya melainkan kefakiran, dan barang siapa menikahi wanita karena keturunannya, maka Allah tidak akan menambahka padanya, melainkan kenistaan, dan barang siapa menikahi wanita melainkan agar pAndangan dan kemaluannya terjaga, atau agar ia dapat menyatukan tali silaturrahni, maka Allah akan memberkahi dirinya dan wanita yang dinikahinya.” (HR. Ibnu Najjar)

 

Islam telah menetapkan kriteria wanita-wanita yang ideal agar dipilih sebagai pasangan hidup. Jika kriteria itu betul-betul diperhatikan kelak (setelah mengarungi berumah tangga) akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan.

 

 

1. Wanita yang Taat Beragama

Bagi seorang lelaki, dalam memilih calon pasangan hidup, hendaknya memilih wanita yang taat beragama. Wanita yang mampu mengaplikasikan nilai-nilai dan pesan-pesan Islam kedalam kehidupan sehari-hari.

Istilah bagi wanita dengan kriteria tersebut populer disebut dengan wanita salehah. Kriteria inilah yang sangat ditekankan oleh rasulullah saw. Beliau bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزْهُ الْمَرْءُ ؟ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ .

Artinya: “Maukah aku beritahukan kamu sebaik-baik simpanan seseorang? Yaitu istri yang salehahh. Istri yang bila suaminya melihatnya, maka istrinya akan membuatnya senang. Bila memerintahnya, maka istrinya akan menaatinya dan bila dia pergi maka istrinya akan menjaga kehormatannya.” (HR. Imam Abu Daud, Hakim dan Baihaqi)

 

Dalam pandangan Islam, kriteria sejati dan ideal yang harus diprioritaskan ialah wanita yang taat beragama. Apalah guna paras cantik, tubuh indah, dan harta benda yang melimpah, jika rumah tangga yang diarunginya tidak bahagia.

 

 

 

2. Berasal Dari Keluarga yang Baik

Selain memperhatikan calon pasangan dari segi agamanya, seseorang juga dituntut agar tidak meninggalkan kriteria asal keluarga atau keturunan.

Urgensi kriteria ini disebabkan karena garis keturunan sangatlah berpengaruh terhadap karakter seseorang. Faktor keturunan merupakan bagian dari rumus membaca kepribadian seseorang.

Bahkan sebagian ulama menegaskan, bahwa menikahi wanita hasil perbuatan zina, wanita dari orang tua yang fasik, dan wanita yang tidak diketahui garis keturunannya adalah makruh. Ini disebabkan karena mereka cenderung melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang tuanya.

 

Maka dari itu, Islam menyarankan agar memilih wanita yang berasal dari keluarga yang jelas, baik-baik, dari kalangan ulama atau keluarga yang taat baragama.

Dengan harapan wanita yang dinikahinya adalah wanita baik-baik dan taat beragama pula. Dan ini selaras dengan apa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda:

إيَّاكُمْ وخَضْرَاءَ الدِّمَنِ اَيِ المَرْأةُ الحَسْنَاءُ فِي المَنْبَتِ السُّوءِ

“Jauhilah olehmu Khadrou’ud Diman, yakni wanita cantik yang hidup di lahan buruk.” (HR. Daruquthni dan Dailami)

 

Tinjauan dari Psikologis pun, menyatakan bahwa kepribadian seorang anak tidak akan jauh dari kepribadian orang tuanya. De factonya (secara fakta), memang kebanyakan anak yang baik berasal dari keluarga yang baik.

 

Dan anak yang buruk berasal dari keluarga yang buruk. Namun tidak menutup kemungkinan orang tua yang berwatak buruk melahirkan anak yang baik dan begitu juga sebaliknya. Karena faktor hereditas adalah faktor dan variabel yang bersifat dominan yang akan menyisakan kemungkinan faktor lain. Seseorang menyatakan:

 

إِذَا طَابَ أَصْلُ الْمَرْءِ طاَبَتْ فُرُوْعُهُ وَمِنْ عَجَبٍ جاَدَتْ يَدُ الشَّوْكِ بِالْوَرَدِ وَقَدْ يَخْبُثُ الْمَرْءُ الَّذِيْ طَابَ أَصْلُهُ لِيَظْهَرَ سِرُّ اللهِ باِلْعَكْسِ وَالطَّرْدِ

“Jika para pendahulunya adalah orang baik, maka keturunanya pun akan baik. Sungguh menakjubkan jika sekuntum mawar tumbuh ditengah pohon-pohon yang berduri. Namun terkadang juga ditemukan keturunan yang buruk berasal dari para orang-orang tua yang baik, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas kehendak-Nya”

 

 

 

3. Mengutamakan Keluarga Jauh

Selain yang dinikahi berasal dari keturunan yang baik. Seseorang dianjurkan Dalam mencari calon pasangan hidupnya, agar menikahi wanita yang mempunyai hubungan keluarga.

Namun yang dimaksud di sini bukanlah keluarga dekat seperti saudara sepupu, melainkan keluarga yang garis keturunanya sudah jauh (selain saudara sepupu).

Dalam sebuah hadis, nabi menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan dari seorang yang menikahi keluarga dekat akan lemah:

 

لا تَنْكِحُوا القَرابَةَ القَرِيبَة فإِنَّ الوَلَد يُخْلَقُ ضَاوِيّاً

“Janganlah kalian menikah dengan keluarga dekat, sebab anak-anaknya akan terlahir lemah” (HR. Ibnu Hibban)

Berkaitan dengan hadis tersebut, Imam Syafi’i ikut memberi alasan, bahwa hal itu menurut beliau dikarenakan disaat menumpahkan hasrat biologisnya ia kurang bergairah.

Ketidak gairahan tersebut dipicu oleh adanya rasa malu dan canggung pada saat bersetubuh dikarenakan lawan mainnya adalah wanita yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan.

Selain itu secara psikis seseorang lebih suka (bergairah) kepada hal-hal yang baru. Dampak dari lemahnya gairah tersebut berakibat pada anak yang akan dilahirkan.

 

Disamping itu, tinjauan sosial juga patut dijadikan pertimbangan menikahi saudara dekat (sepupu). Sebab tujuan menikah ialah untuk menyatukan keluarga yang jauh agar lebih dekat. Tujuan tersebut tidak akan menemukan dinamika jika yang dinikahi adalah orang yang memang secara garis keluarga sudah dekat.

 

Masih tentang tujuan nikah untuk mendekatkan keluarga yang jauh, akan menjadi sia-sia juga jika yang dinikahi adalah wanita yang sama sekali tidak mempunyai hubungan keluarga.

Sebab memang tidak ada tuntutan untuk menyatukanya. Namun, menikahi wanita yang tidak mempunyai hubungan keluarga, lebih baik dan lebih dianjurkan daripada menikahi keluarga dekat.

 

 

 

 

4. Berparas Cantik dan Berakhlak Baik

Ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam kitab ihya’ bahwa memilih calon pasangan yang berparas cantik juga diperlukan. Kecantikan terkadang menjadi penyebab timbulnya rasa cinta.

Islam hanya melarang seseorang mencari pasangan hidup hanya lebih mementingkan paras dan struktur biologis saja tanpa memerhatikan ahlak dan perilakunya.

 

Sebab paras yang cantik sifatnya hanya nisbi atau sementara, yang tak perlu terlalu diprioritaskan. Bahkan ada sebagian yang mengatakan, bahwa menikahi wanita yang sangat cantik dihukumi makruh, karena wanita yang terlalu cantik cenderung melakukan perselingkuhan dan mendatangkan fitnah.

 

5. Wanita yang Subur dan Penyayang

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa diantara tujuan pernikahan ialah agar memperoleh keturunan. Tujuan tersebut tidak akan tercapai jika wanita yang dinikahi adalah wanita yang tidak subur atau mandul.

Nabi sangat bangga dengan seseorang yang mempunyai banyak keturunan, karena hal itu akan dapat memperbanyak generasi umat Islam. Kebanggan tersebut disampaikan oleh nabi dengan lugas dalam sabdanya:

 

 

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Nikahilah wanita yang subur dan dan penyayang, maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan kalian didepan para Nabi di hari Kiamat kelak.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibbban)

Dan dari beberapa kriteria yang sudah disebutkan di atas hanya satu yang paling ideal dalam pandangan Islam. Kriteria yang lebih diunggulkan diantara kriteria-kriteria yang lain, yaitu wanita yang taat beragama.

 

Kriteria yang lain hanyalah kriteria pendukung sehingga jika diharuskan memilih diantara dua wanita, yang satu taat beragama dan satu hanya berparas cantik dan tidak taat beragama, maka Islam menganjurkan agar memilih yang pertama.

 

Namun, alangkah baiknya jika semua kriteria yang sudah disebutkan sama-sama diperoleh dan hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin.

 

Sumber: islamidia.com

Akibat Mengerikan Karena Menolak Lamaran

 

Menolak lamaran bukan perkara yang sepele. Ia merupakan perbuatan serius yang dampaknya bisa berkepanjangan. Akibat menolak lamaran bukan hanya dirasakan oleh wanita penolak lamaran, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitarnya.

 

Apalagi jika seorang wanita menolak lamaran karena alasan yang tidak bisa dibenarkan secara syariat Islam. Akibat buruk dan mengerikan atas tindakan itu, merupakan peringatan tegas dari Nabi Muhammad sekitar 14 abad silam.

 

“Apabila seseorang yang agama dan perilakunya bisa kalian terima meminang putri kalian, maka nikahkanlah dengannya. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan menjadi musibah di bumi dan kerusakan yang nyata.”

Hadits shahih berdasarkan sanad Imam At-Tirmidzi ini dikutip oleh Abu Al-Hamd Rabi’ dalam bukunya Membumikan Harapan Rumah Tangga Islam Idaman.

 

4 Nasihat Rasulullah Untuk Persiapan Akhirat

 

Dunia ini hanya bersifat fana dan sementara, sedangkan tujuan hidup kita sebenarnya adalah akhirat kelak. Dunia ini hanyalah sebuah tempat persinggahan untuk kita, tempat mengumpulkan bekal menuju akhirat, dan tempat mempersiapkan kehidupan akhirat yang merupakan kehidupan sebenarnya.

Allah telah berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Disebutkan dalam kitab Nashaihul ‘Ibad yang merupakan penjelasan (syarh) daripada kitab Al-Munabbihaat ‘Alal Isti’daad Li Yaumil Ma’aad karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berisi nasihat-nasihat nan bijaksana, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat yaitu Abu Dzar Al-Ghifari rahimahullah:

“Wahai Abu Dzar,

 

  1. Perbaharuilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
  2. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
  3. Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi; dan
  4. Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat”

 

Kumpulan Hadits Nabi Tentang Pernikahan

 

Pernikahan merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi umat islam. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat antar hubungan antar sesame manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih sayang.

Bahkan Nabi pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama. Oleh karena itu, manusia disyariatkan untuk menikah.

 

Dibalik anjuran Nabi kepada umatnya untuk menikah, pastilah ada hikmah yang bisa diambil. Diantaranya yaitu agar bisa menghalangi mata dari melihat hal-hal yang tidak di izinkan syara’ dan menjaga kehormatan diri dari jatuh pada kerusakan .

Islam sangat memberikan perhatian terhadap pembentukan keluarga hingga tercapai sakinah, mawaddah, dan warahmah dalam pernikahan. Pernikahan memiliki tujuan untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT. Dalam Islam pernikahan merupakan sunnah Allah dan Rasulnya seperti yang tercantum dalam hadits berikut:

Kisah Pram dan Hamka: Bertengkar di Atas Kapal Van der Wijck, Berdamai di Bawah Islam

 

Panasnya api perseteruan tak selamanya abadi. Kadangkala keyakinan yang sama mampu mendamaikannya. Seperti konflik yang terjadi di antara Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan Pramoedya Ananta Toer.

Dua tokoh sastra kenamaan Indonesia itu bersebrangan paham. Namun pada akhirnya, Islam jualah yang mendamaikan mereka.

Perseteruan di antara Hamka dan Pram bermula pada awal tahun 1963. Jagad sastra Indonesia digemparkan oleh dua surat kabar di Jakarta, yakni Harian Rakyatdan Harian Bintang Timur. Kedua koran tersebut berafiliasi pada Partai Komunias Indonesia (PKI) di masa itu.

Keduanya memberitakan karya Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan hasil jiplakan.

 

Rubrik Lentera dalam koran Harian Bintang Timur yang diasuh Pram, secara detil mengulas cara Hamka mencuri karangan itu. Karya tersebut diduga milik sastrawan asing, Alvonso Care.

Berbulan-bulan lamanya kedua koran tersebut terus menerus memojokan Hamka. Bahkan, kedua koran itu tak hanya mengkritik karya Hamka. Mereka juga menyerang Hamka secara pribadi.

Irfan Hamka, putra Hamka yang menuliskan memoar tentang ayahnya, dalam buku yang berjudul Ayah, mengaku sering dipojokan oleh guru sastra Indonesianya semasa SMA. Gurunya saat itu memang dekat dengan tokoh Lekra seperti Pram.

Ini Tanda-tanda Kalau Allah Benci Atau Sayang Kepada Kita

 

Allah Ta’ala berfirman mafhumnya:
“Katakanlah (wahai Muhammad), jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang,” [Surah Aali-lmran : 31]

Apa lagi yang lebih berharga dan lebih penting dari mendapat CINTA dari Allah S.w.t Pencipta sekalian makhluk. Jika sudah mendapat cinta Allah, maka insyaAllah akan berbahagialah hidup di dunia dan juga di akhirat.

Tanda-tanda Allah Sayang Kepada Hamba-Nya

 

1. Paham Agama

Rasulullah S.a.w bersabda, maksudnya: “Apabila Allah mencintai seseorang maka Dia membuatnya faham mengenai agamanya.” [Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim]

“… Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) beberapa darjat, dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam Pengetahuan-Nya tentang apa yang kamu lakukan.” [Surah Al-Mujadilah : ayat 11]

Inilah 10 Pengakuan Jin Untuk Mengelabui Manusia

Allah Subhanahu wa Taala melarang manusia berhubungan dan meminta bantuan kepada jin. Pada faktanya, jin yang mau membantu manusia terlebih dengan transaksi tertentu- adalah jin yang menjerumuskan kita ke dalam dosa dan kesesatan.

“Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6).

Dalam rangka mengelabui dan menjerumuskan manusia, banyak jin yang membuat pengakuan palsu. Pengakuan ini umumnya disampaikan pula pada saat jin tersebut diruqyah. Berikut ini 10 pengakuan umum jin sebagaimana dituturkan Tim Ruqyah Majalah Ghoib:

Mengaku bahwa ia tak mengganggu manusia
Mengaku membantu manusia khususnya orang yang dirasukinya- dalam beribadah
Mengaku membantu manusia khususnya orang yang dirasukinya- bekerja dan mencari rezeki
Mengaku melindungi manusia khususnya orang yang dirasukinya- dari serangan syetan
Mengaku bisa melihat syetan dari golongan jin yang akan menggoda manusia
Mengaku melindungi manusia khususnya orang yang dirasukinya- dari kezaliman orang lain
Mengaku mencintai manusia khususnya orang yang dirasukinya- karena ia rajin ibadah
Mengaku menyelamatkan manusia khususnya orang yang dirasukinya-dari musibah
Mengaku akan menjaga kesehatan manusia khususnya orang yang dirasukinya
Mengaku bahwa dirinya bukan dari golongan syetan
Benarkah pengakuan-pengakuan tersebut? Tim Ruqyah Majalah Ghoib menegaskan bahwa 10 pengakuan itu tidak bisa dipercaya dan bisa dipatahkan dengan logika syari.

 

 

Pertama, manusia tidak bisa membuktikan sejauh mana pengakuan maupun penolakannya.

Kedua, kebohongan pengakuan jin tersebut dengan cepat terbongkar ketika ruqyah dilanjutkan. Buktinya, jin tersebut berteriak kesakitan saat dibacakan ayat-ayat tentang Munafiqin dalam surat Al Baqarah.

Apalagi setelah dilanjutkan dengan ayat kursi, surat An Nisa ayat 56 dan 115, surat Al Jin ayat 6 serta ayat-ayat lain yang menjelaskan ancaman Allah bagi manusia dan jin yang membangkang perintah-Nya.

Ketiga, manusia tidak boleh meminta bantuan kepada yang ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Taala. Sebagaimana ayat yang senantiasa dibaca saat shalat:

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5).

 

Sumber: islamidia.com